Idealisme dari bahasa Inggris yaitu Idealism dan kadang juga dipakai istilahnya mentalisme atau imaterialisme. Istilah ini pertama kali digunakan secara filosofis oleh Leibniz pada mula awal abad ke- 18. Leibniz memakai dan menerapkan istilah ini pada pemikiran Plato, secara bertolak belakang dengan materialisme Epikuros. Idealisme ini merupakan kunci masuk ke hakikat realitas [1].

Beberapa pengertian Idealisme [1]:
1. Adanya suatu teori bahwa alam semesta beserta isinya adalah suatu penjelmaan pikiran.
2. Untuk menyatakan eksistensi realitas, tergantung pada suatu pikiran dan aktivitas-aktivitas pikiran.
3. Realitas dijelaskan berkenaan dengan gejala-gejala psikis seperti pikiran-pikiran, diri, roh, ide-ide, pikiran mutlak, dan lain sebagainya dan bukan berkenaan dengan materi.
4. Seluruh realitas sangat bersifat mental (spiritual, psikis). Materi dalam bentuk fisik tidak ada.
5. Hanya ada aktivitas berjenis pikiran dan isi pikiran yang ada. dunia eksternal tidak bersifat fisik.
Nah, idealis itu orang yang menganut paham idealisme.
Perfeksionisme adalah keyakinan bahwa seseorang harus menjadi sempurna, mencapai kondisi terbaik pada aspek fisik ataupun non-materi. Perfeksionis adalah orang yang memiliki pandangan perfeksionisme [2].

Tapi sebenarnya postingan ini tidak membahas definisi di atas. Karena setelah saya baca, saya pun tak bisa memahami definisi idealisme tersebut =D. Karena kalau menurut saya idealisme adalah suatu paham yang dijunjung oleh seseorang (berkaitan dengan prinsip, pola tingkah, tingkah laku, sikap hidup) yang menjadi takaran ideal baginya. Nah lho, beda banget kan? Atau saya salah persepsi? Setiap orang pasti punya definisi sendiri kan? Untuk definisi perfeksionisme saya sepakat dengan definisi di atas. Idealisme seringkali disandingkan dengan perfeksionisme. Orang yang idealis kadang perfeksionis juga. Apa kondisi ideal = sempurna = perfect?

So, hanya ingin sharing tentang kedua istilah ini. Saya sering sekali mengalami kondisi dimana ingin sesuatu berjalan secara ideal dan sempurna. Misal, saat masih duduk di bangku SMA saya rela menyalin laporan praktikum biologi (lebih dari dua kali) yang notabene bejibun (karena rangkap 3; laporan kelompok bentuk portofolio, laporan kelompok di buku kelompok, laporan individu di buku individu) hanya karena ada sedikit kesalahan ataupun tulisan yang kurang rapi karena ditulis secara bersama-sama anggota kelompok yang lain. Atau pada saat musim TP (Tugas Pendahuluan, penugasan sebelum pelaksanaan praktikum) di awal perkuliahan saya rela berlama2 membuat garis agar tulisan saya rapi (sebenarnya alasannya karena saya asymetris). Atau beberapa tuntutan saya saat berada di organisasi yang kerap mengundang gumaman “Realistis aja lah, Nan. Liat aja kondisinya sekarang seperti apa.

Seiring berjalannya waktu, idealisme pun tak luput dari “badai”. Mengerjakan tugas tak lagi memperhatikan estetika tulisan, esensi tugas, dsb. Semakin luntur, namun beruntung masih dininggalkan bekasnya. Saat berusaha merengkuh kembali serpihannya ternyata tak semudah menyusun puzzle bergambar kartun (analogi yang kurang tepat >_<) Butuh semangat dari diri pribadi (bukan kata-kata “semangat” yang diobral tanpa ruh) serta ketahanan jiwa untuk menangkis pandangan negatif manusia di luar sana. Dan hari ini kutemukan teori baru “orang idealis cukup takut bila dihadapkan pada ruang realitas”. Ya, karena terkadang realitas yang jauh dari kerangka idealitas yang dibangun nampak seperti air cuka yang menetes di atas luka yang menganga. Jadi, Idealis atau perfeksionis ya tepatnya?

Hehe.. masih terserak dan ngaco idenya. Tapi, bagi yang cukup mengerti akan situasi penulis saat ini mungkin bisa sedikit memahaminya. Keep posting your idea!

[1] http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=8035
[2] http://id.wikipedia.org/wiki/Perfeksionisme

Iklan