Pernahkah Anda bertemu malaikat? Saya pernah! Dua kali malah! Tentu saja malaikat yang saya temui bukan sebenar-benarnya malaikat. Ya, hanya sosok manusia baik berhati seperti malaikat. Dua-duanya saya temui di stasiun. Malaikat Dermawan Saya lupa tepatnya, sekitar dua tahun yang lalu saya bertemu beliau di Stasiun Gambir. Saat itu sehari menjelang long weekend, saya nekat memutuskan untuk pulang tanpa sehelai tiket. Sepulang kerja saya segera meluncur menuju Stasiun Gambir. Namun, betapa terkejutnya ketika antrian di setiap loket sudah mengular. Ketika saya dekati salah seorang calon penumpang, ternyata sebenarnya tiket sudah habis, hanya saja mereka mengharapkan dibukanya gerbong tambahan. Itupun belum pasti. Kaki saya lemas. Sayup-sayup adzan maghrib berkumandang. Dengan sedikit kecewa saya seret kaki ini menuju musholla stasiun. Saya jamak maghrib dan isya’. Dipenghujung do’a saya pasrahkan pada Allah untuk menentukan perjalanan saya selanjutnya. Seusainya saya kembali berjibaku dengan antrian loket. Ikut harap-harap cemas menunggu tambahan gerbong. Saya berdiri tepat di belakang seorang bapak paruh baya dengan tas jinjing dan kopernya. Tiba-tiba sang bapak meminta saya untuk menjaga kopernya karena beliau ingin mencari alternatif lain untuk mendapatkan tiket. Yup, nyari calo tiket sodara! Dalam benak saya, percaya betul bapak ini pake nitip barang ke orang yang tak dikenalnya. Tapi, ya sudahlah.. Karena kopernya sudah diamanahkan ke saya, akhirnya saya pegang handlenya erat-erat. Takut kalau ada yang berniat buruk dengan koper itu. Hampir setengah jam saya menjaga koper sambil antri. Saya mulai berpikir macam-macam. Jangan-jangan saya dijebak. Jangan-jangan kopernya berisi barang haram. Dan banyak lagi jangan-jangan lainnya. Lamunan saya buyar kala bapak pemilik koper menghampiri saya dan mengajak saya keluar dari antrian. Sambil berbisik beliau bercerita kalau dirinya sudah mendapatkan tiket dari calo. Dan yang bikin dag dig dug adalah sang bapak mengajak saya untuk ikut. Ternyata tiket yang dibelinya untuk dua orang, dan si calo mengharuskan sang bapak untuk membeli keduanya. Deretan angka mulai berjalan di kepala saya. Biasanya harga tiket dari calo bisa dua sampai tiga kali dari harga normal. Waah.. Mahal sekali, pikirku. Apalagi yang ditawarkan adalah tiket eksekutif KA Sembrani. Nampaknya sang bapak menangkap apa yang sedang saya pikirkan. Kemudian beliau meyakinkan saya bahwa saya cukup membayar harga normal. Dan sisanya beliau yang tanggung. Karena beliau harus pulang malam itu juga. Huaaa… Baik sekali. Tak menunggu lama, saya langsung mengiyakan tawaran beliau. Akhirnya kami berdua berlarian menuju gerbong kereta yang lima menit lagi akan berangkat. Sambil napas yang masih ngos-ngosan, kami sampai di dalam gerbong. Belum hangat pantat di kursi, kereta sudah melaju. Allahu Akbar!! Saya bisa pulang! Ketika menyelesaikan pembayaran ke sang bapak, saya berkali-kali berterima kasih kepada beliau. Sepanjang perjalanan kami saling bertukar cerita tentang betapa paniknya hari ini. Dan obrolan kami terhenti ketika petugas KAI menawarkan menu makan malam. Baru sadar kalau perut kami berdua belum diisi. Akhirnya kami pesan makan beserta minumnya. Dan lagi-lagi saya mendapatkan percikan hari malaikat sang bapak. Beliau mentraktir saya. Duuh.. Malu sebenarnya. Tapi pamali juga kalo nolak gratisan. Hehehe.. 😛 Usai makan, kami kembali terlibat obrolan ringan. Daaaaan… Jeng..jeng..jeng.. Ternyata bapak malaikat ini turun di stasiun cirebon. Means.. Dari Cirebon sampai Surabaya, dua kursi empuk ini akan menjadi barang jajahan saya. \^0^/ Akhirnya saya hanya terpekur sambil lamat-lamat merapal hamdalah serta ayat yang berulang-ulang tertera di Surat Ar Rahman Fabiayyi aalaa irabbikumaa tukadzibaan.. *Menggali Memori 28 Maret 2013 KA Majapahit Pasar Senen-Madiun

Iklan