Malaikat stasiun yang kedua adalah seorang bapak tua yang saya temui di Stasiun Senen.

Saya tiba di stasiun saat udara terik menjelang sore bercampur dengan padatnya rombongan penumpang liburan akhir pekan.

Hawa panas, badan lemas memaksa saya untuk segera mencari bangku kosong. Hap! Akhirnya saya mendapatkan bangku di ujung peron di antara dua orang lelaki. Di samping kanan saya, seorang bapak tua, sekitar 50 tahunan, duduk sambil mendekap tas jinjing. Di samping kiri saya, seorang pemuda duduk terpekur sambil mengawasi kardus bawaannya. Lima menit berselang, sang bapak mengajak saya mengobrol. Berikut cuplikannya (beberapa bagian dihilangkan 😉
(B: Bapak; S: Saya)

B: “Mau kemana dik?”
S: “Mau ke Surabaya pak, tapi mampir dulu ke Madiun.”
B: “Ooh.. Sudah lama merantau di sini?”
S: “Hampir dua tahun, Pak.”
B: “Sudah menikah?”
S: (senyum sambil geleng kepala)
B: “Lhoo.. Apalagi yang ditunggu? Menikah itu ibadah dik. Dalam hadits ……. (saya tidak hafal arabnya) yang artinya carilah rizqi dengan menikah.”
S: “Hmm.. Iya pak, saya sedang mempersiapkannya. Kan katanya kalau ingin dapat suami yang baik, kita harus baik dulu.”
B: “Iya, saya sepakat. Tapi dik, sampai kapan mau mempersiapkannya? Lagipula, menikah dengan tujuan yang benar bisa mengantarkan kita menjadi semakin baik lho. Contohnya, sholatnya lajang (sendiri) itu cuman dihitung satu pahala. Coba kalau sudah menikah, sholat bareng suami (jama’ah) bisa 27 pahalanya. Apalagi kalau setiap hari berjama’ah. Ini baru sholat lho. Belum yang lainnya.”
S: (manggut-manggut doang)
B: “Ya sudah sana dipikirin lagi dan segera menikah! Bapak mau pergi dulu.” (sambil menjinjing tasnya dan ngeloyor pergi)
S: “Eh.. Eh.. Iya pak.. Terimakasih nasehatnya.”

Selepas mengikuti kelebatan sang bapak yang tenggelam di kerumunan penumpang, saya masih merenung. Mimpi apa semalam, tiba-tiba mendapat tausiyah dadakan dari seseorang yang baru bertemu belasan menit yang lalu. Dari penampilannya tak disangka akan keluar petuah yang menambah sudut pandang berpikir saya.

Gals, “malaikat” yang satu ini mengingatkan saya untuk lebih open mind. Don’t judge the books by its cover. Peringatan dan nasehat bisa datang dari siapapun, dimanapun, dalam banyak bentuk.
Jangan lihat siapa yang berbicara, tapi dengarkan apa yang dia katakan. Sekian.

28 Maret-10 April 2013
*Ditulis paralel dalam kereta Majapahit menuju Madiun, dilanjutkan di tengah kemacetan sepulang kerja.

Iklan