Hi..!

Sudah lama ngga nulis berasa kaku jari-jari. Hihi..

Well, kali ini pengen sekedar nyimpen cerita aja buat dibaca besok – besok 🙂

Kalau baca postingan saya tiga atau empat tahun yang lalu berasa galau banget waktu itu pengennya buruan nikah aja Ya Allah. Hehe.. Tapi pas udah lewat tahun – tahun berikutnya malah sepiii karena sibuk jadi kuli. Dan, sekarang tau – tau udah nikah aja.

Kepikiran mau nulis ini gegara udah mau jalan setengah tahun nikah, masih ada aja yang suka ngejapri, entah itu iseng atau emang beneran ngga tau, nanyain,

Eh, Nan.. lu udah nikah belum sih?

Ya, walaupun harus diakui rasanya disodorin pertanyaan di atas lebih adem jawabnya ketimbang pertanyaan tahun sebelumnya, seperti

Nan, kapan lo nikah?

atau ada yang lebih ekstrim lagi pas badan lagi ngembang

Mbak, lagi isi anak kedua ya?

*speechless

Syahdan, di penghujung 2015 ada pelajaran dari Allah yang ‘menampar’ saya untuk kembali berbenah, merenungkan kehidupan saya ke depan. Saat itu, saya sedang ‘terbuai’ banget sama kerjaan. Target tercapai, kesempatan meningkatkan skill terbuka lebar, tim solid, passion lagi di atas, ngga peduli lembur dibayar atau ngga, yang penting kerjaa aja.

Tapi, setelah ‘tamparan’ Allah itu, saya jadi berpikir, kayanya ada yang salah ini. Dulu saya kerja buat apa, sekarang ngejar apa ya? Tambah nyesek lagi pas nemuin dream list yang beberapa point udah ngga tercapai lagi. Tiap pulang kerja akhirnya sering merenung, kadang mampir ke masjid kantor, diem sendirian berasa pengen ngobrol lama sama Allah. Dan pas banget dapat kutipan di bawah ini.

Dalam kitab Nahjul Balaghah, Ali bin Abi Thalib mengajarkan kepada kita:

Barangsiapa membereskan hubungan antara dirinya dengan Allah, niscaya Allah akan membereskan hubungan antara dia dan manusia semuanya. Barangsiapa membereskan urusan akhiratnya, niscaya Allah akan membereskan baginya urusan dunianya. Barangsiapa selalu menjadi penasihat yang baik bagi dirinya, niscaya Allah akan menjaganya dari segala bencana.

Akhirnya solusinya cuma satu, PDKT lagi sama Allah. Lanjut sering – sering nelpon yang di bawah kakinya terbentang surga, Ibu..

Ngobrol ngalor ngidul sama ibu, ternyata ada beberapa pengharapan yang belum tuntas kujalankan. Selain kondisi kerjaan yang sepertinya dari awal ibu ndak rela berjauhan lagi sama anak wedoknya yang bandel ini, juga masalah nikah! Hey, sudah lama ya sejak kapan tahun memang kami tak pernah membahasnya serius. Beberapa tawaran perjodohan yang sesekali mampir di topik obrolan cuma kutanggapi dengan tawa kering (please bayangin gimana itu tawa kering).

Akhirnya kuputuskan untuk menyudahi rantauan tak berujung bahagia ini (*eh) kembali ke pangkuan ibu dengan terselip sedikit harapan siapa tau jodoh juga akan mendekat.

Di sela – sela rencana mengubah episode hidup di atas, ndilalah ada seorang teman lama yang menceritakan rencana kepindahannya. Singkat cerita, saya sedikit tertarik dengan motivasi pindahnya, menyelamatkan iman & keluarga. Setidaknya itu yang saya tangkap dari obrolan maya. Beliau juga yang secara tidak langsung memberikan pencerahan dan memantapkan saya untuk mengambil keputusan pindah. Padahal dari segi kasus, jelas kepindahannya lebih menjanjikan karena sudah ada perusahaan yang fix menerima dia di sana. Sedangkan saya? Modal nekat mau deketin ortu biar dapat barokahnya, masalah kerjaan ya nanti lah.. (yang ini ga boleh ditiru >_<) Pun sebenarnya ada beberapa lamaran kerja yang sudah saya kirimkan, namun belum tembus jua.

Sampai pada akhir bulan Januari 2016, teman saya ini mengajak bertemu, mau pamitan katanya. Sempat deg – degan juga sih, secara selama hampir 9 tahun merantau ndak pernah kayanya diajak ketemuan sama teman lama, sendirian. Paling banter ya ketemuan rame – rame. Itupun bisa dihitung jari sebelah tangan. Bukan kenapa – napa, saya tipe orang yang seeering banget menghindari hal – hal seperti ini. Menjaga pergaulan saat di perantauan adalah kunci kepercayaan yang harus terus saya pegang untuk membuat orang tua saya tenang walaupun anaknya jauh di mata.

Akhirnya saya berusaha mendamaikan diri, bahwa ini cuma ketemuan biasa, ndak lebih. Haha.. dasar jomblo mikirnya suka ngelantur.

Dan mendekati hari yang disepakati, ternyata teman saya ini membatalkannya. Saya cuma senyum aja. Yawes, coret abu – abu (read : sementara) >.< Sepekan kemudian beliau menghubungi kembali untuk bertemu hari itu juga. Nah loh.. Saya yang sudah punya janji dengan dua teman kerja saya mensyaratkan untuk bertemu di tempat yang sama. Niatnya sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Bonusnya, saya jadi ndak sendirian, bisa ditemani dua bodyguard cantik. Hihi..

Sepanjang perjalanan bersama dua teman saya ini, pikiran udah ngga fokus. Mau ngapain ntar, ngobrolin apaan, bla..bla..bla.. Karena walaupun teman lama, saya tidak terlalu akrab dengan beliau. Sesampainya di tempat yang dijanjikan, saya sempat menemani kedua teman saya untuk makan dan berbelanja, sampai HP saya menerima pesan singkat, beliau sudah di lokasi. Saya memberitahukan ke kedua teman saya untuk menemuinya. Dan ternyata keduanya kompak enggan menemani saya. Nantilah kami menyusul, kata mereka serempak. Hmm.. M***lah ini.

Akhirnya dengan berat hati saya pergi menemui beliau. Dari kejauhan saya mendapati sosoknya, berkaos, bercelana jeans, dan memakai sandal, santai sekali. Dalam hati bergumam

Yakin lo Nan mau ketemu dia? Seriusan lo?

Dengan agak canggung saya menemuinya, mengajak ke salah satu tempat makan. Kami memesan minum dan duduk berhadapan. Well, ini bukan gue banget!

Mungkin raut canggung saya terbaca, sehingga beliau memulai obrolan dengan santai. Tapi ya tetap aja sudah kepalang canggung, dalam hati masih menderu, minta maaf ke Allah, sambil sesekali mata melirik keluar mencari dua sosok yang tadi bilangnya mau nyusulin. Sampai akhir obrolan pun keduanya tidak terlihat batang hidungnya. Kurang dari sejam beliau undur diri. Saya pun mengiyakan.

*************************************************************************************

Singkatnya setelah pertemuan itu, saya makin PDKT ke Allah, minta penjagaan hati, mengikhlaskan apapun yang akan terjadi ke depannya. Bukan hanya tentang keputusan keluar dari pekerjaan, tetapi juga tentang jodoh. Pasrah sepasrah pasrahnya.

Akhir bulan berikutnya beliau pamit melalui pesan singkatnya. Entah apa yang menggerakkan, tetiba saya meluncur menitipkan sebungkus barang melalui jasa pengiriman. Ini kali pertama saya melakukannya, dengan itikad sebagai tanda terima kasih telah menginspirasi. Itu saja.

Sejak saat itu obrolan maya kami menjadi mengalir. Diskusi ini itu sampai pada diskusi tentang keluarga. What does it means?

Tenang, Nan.. Belajar dari pengalaman. Jangan terlalu berharap deh!

Angan saya berputar dan suara di atas berdengung. Inget Allah, inget ibu.

**************************************************************************************

09 Maret 2016

Setelah pagi hari gerhana matahari, malam harinya mata saya yang gerhana.Pesan singkat masuk dan meminta saya membaca surelnya. The proposal!

Saat itu saya sendirian di kamar kost, udah pengen jungkir balik, mau nangis histeris malu kedengeran ibu kost, mau lari juga ribet harus ganti baju pake kerudung dan kaos kaki (oke stop it!).

Akhirnya saya hanya bisa memintanya untuk bertemu ibu dan saudara saya di rumah sebelum menjawab proposalnya.

Yang tak habis dalam pikiran saya, ternyata saat Allah berkehendak, semua akan mudah dijalani. Ibu yang biasanya ‘alot’ masalah memilah dan  memilih, jadi luluh. Mungkin karena saya sendiri ternyata belum paham betul apa yang diharapkan ibu. Dari agenda silaturrahim kedua belah pihak sampai akad pun berjalan lancar. Alhamdulillah…

Oiya, salah satu hal yang patut saya syukuri juga, penjagaan Allah sangat saya rasakan. Dulu saya berharap, nanti saat saya melalui proses menuju halal, jangan sampai dikotori oleh hal – hal yang mengurangi kesucian penjagaan Allah saat saya masih sendiri. Misalnya, jalan berdua dengan dalih mengurusi tetek bengek pernikahan, dsb. Dan ternyata harapan saya itu terkabul. Lelaki ini, bahkan lebih strict dari apa yang saya harapkan. Jangankan jalan berdua, kemana – mana kami selalu dikuntit dua bodyguard kece yang tak lain adalah calon adik ipar saya.

Dari proses khitbah menuju akad pun intensitas obrolan kami menurun drastis, hanya sebatas menanyakan perihal persiapan dan progress acara menuju akad. Sempat dibuat kesel juga, serius ngga sih ini orang. Tapi setelah dipikir – pikir, oiya ini bentuk beliau menjaga hubungan yang belum halal. Jadi banyak juga pembelajaran yang saya dapatkan saat masa – masa menunggu. Kadang kalau lagi nyambung tentang sikap beliau, saya mahfum. Tapi seringnya saya sadar pas udah kesel kemrungsung sendiri. Hehe..

Jadi sodara – sodara, demikian kisahnya. Masih suka ngga percaya sama jalan yang digariskan untuk menuju halal ini. Saat undangan disebar pun, teman – teman lama banyak yang melontarkan pertanyaan yang sama. Lho kok bisa sama dia? Saya cuma bisa jawab pake emot aja ya 🙂

Pose setelah prosesi akad, masih kaku dan malu – malu ><

Iklan