Dalam salah satu topik diskusi sebelum proposal itu datang kepada saya, beliau, mantan bakal calon suami saya bertanya tentang metode terbaik dalam membangun kesiapan untuk menerima. Beliau berpendapat, proses saling mengenal adalah bagian dari metode untuk membangun kesiapan untuk menerima.

Awalnya bingung, apa maksudnya? Kemana arah pembicaraannya?

Dari sudut pandang saya, kunci awal dari sebuah hubungan adalah membangun landasan komitmen.  Ketika keduanya sama – sama berkomitmen dengan landasan yang kokoh, maka proses saling mengenal dan menerima itu akan menjadi mudah. Jadi, di awal ndak perlu terlalu detil mengenal tentang makanan kesukaan, warna favorit, dan lain sebagainya. Karena kalau dari awal meributkan hal – hal yang demikian, coba pinjam saja buku kenangan masa SD atau SMP teman kita yang suka mengoleksi biodata sebelum acara kelulusan. Kan suka ada tuh makes, mikes, hobby, dll. Hehe.. ketauan angkatan berapa ya. Kalau anak jaman sekarang mungkin udah beda budayanya.

Oleh sebab itulah kita mengenal konsep ta’aruf, yang berjangka waktu, tidak berlarut – larut. Karena sejatinya pernikahan adalah proses mengenal tiada akhir. Yang sering berdalih bahwa pacaran adalah sarana mengenal pasangan pun tidak menjamin 100% mengenal dan menerima pasangannya setelah pernikahan.

Dan saat itu kami sepakat bahwa batas perlunya adalah saling mengenal pandangan berkeluarga atau sering disebut visi dalam berkeluarga.

Duh, kalian ini mau nikah ribet juga ya!

Haha.. ya memang. Saya pribadi memang memilih ribet di awal daripada menyesal kemudian. Karena menikah bukan sekedar ‘aku cinta kamu’.

Setelah kami saling memaparkan visi dalam berkeluarga (lebih tepatnya beliau yang secara detail membuat modelnya :D), bersilaturrahim dengan kedua keluarga, serta menggali informasi dari kedua adiknya, saya pun mantap menerimanya. Eits, mantap di sini bukan berarti 100% saya mengenal dan menerima baik buruk pribadinya, tapi secara prinsip dasar saya tidak ada masalah dengannya.

Dan tibalah kehidupan setelah akad, saat kami akhirnya hidup bersama. Ngga ada lagi ngulur waktu buat balas chat karena lama mikir harus bales apa, atau sengaja ngga ngangkat telponnya karena ngga tau harus ngomong apa. Semua hal terpampang nyata, ngga ada yang bisa ditutup – tutupi. Baik buruknya, kebiasaannya, suka ngga suka ini suamimu!

Mengutip cerita dari Azhar dalam ceritanya di sini

Maka saya setuju sekali dengan apa yang dikatakan Salim A. Fillah, pernikahan adalah proses saling mengenal tanpa akhir. Dalam proses saling mengenal itu, tentu ada hal yang menyenangkan ada yang tidak. Ada yang membanggakan ada yang tidak. Sehingga proses saling mengenal yang tak didahului oleh kesiapan untuk menerima hanya akan melahirkan perasaan kecewa, yang jika ditumpuk lama-lama akan sangat berbahaya.

begitu juga dengan kehidupan pernikahan kami. Sebulan, dua bulan, tiga bulan, aah.. sepertinya tidak ada batasan waktu yang tepat untuk mengakhiri masa perkenalan kami. Selalu saja ada hal yang baru saya ketahui setiap harinya. Kadang cukup menerimanya tanpa kata, bergumam, menggerutu (yang ini diminimalisir sih kalo bisa >.<), kadang juga sambil senyum sumringah.

Pesan kepada diri saya sendiri, jangan cepat men-judge sifat seseorang dari satu kali kejadian/ sesaat. Karena segalanya sangat relatif. Kenapa begitu? Salah satu contohnya, beliau, suami saya dulu mendeskripsikan dirinya sebagai orang yang ngga romantis. Perempuan mana yang ngga pengen di-romantis-in? Awalnya meng-iyakan juga sih, ini orang ngga ada romantis – romantisnya. Tapi seiring berjalannya waktu, dalam diri saya menyangkal deskripsi di atas. Ah.. ngga juga kok, laki gue romantis abis! Tentu saja dengan caranya, yang saya anggap itu romantis.

Dan kembali lagi ke uraian di awal, hal yang penting dari proses mengenal adalah kesiapan untuk menerima. Menerima segala kelebihan dan kekurangan pasangan. Bukan berarti pasrah, tapi saling membangun. Ketika ada kekurangan pasangan yang tidak kamu sukai, maka jangan hanya menuntut pasangan untuk berubah, tapi akan lebih indah kala kita bisa membersamai untuk berubah.

Yup.. roda hidup terus berputar, semuanya bisa berubah. Mungkin kalian yang pada baca tulisan ini ada yang beranggapan, yaelah.. kan masih baru, wajar aja masih indah – indahnya. Justru itu, selagi masih banyak moment indahnya, saya sengaja menuliskannya agar kelak saat perkenalan kami nanti ada hal – hal yang “ngga enak” saya bisa baca – baca lagi tulisan ini, bahwa yang saya alami saat ini jauh lebih berharga ketimbang secuil episode “ngga enak” yang nanti ditemui.

Pernah baca juga di sebuah tulisan (saya lupa sumber lengkapnya), bahwa salah satu kunci dalam menjaga hubungan adalah tuliskan setiap kebaikan dan keburukan yang dilakukan oleh pasangan. Ketika ada kebaikan, maka tambahkan di kolom kebaikan, dan hapus satu poin di kolom keburukan. Begitu terus, hingga nanti yang tergores adalah deretan kebaikannya, abaikan keburukannya.

Well, selamat melanjutkan perkenalan dengan pasangan masing – masing 🙂

Mas.. mas.. kenalan dong!

Iklan