Omiyage :)

Hi..!

Awal bulan November kemarin Akikazu Yoshioka a.k.a Andy-san, trainer dari Jepang plus pembimbing proyek saya (baca Kuliah Tanpa Gelar), kembali menyambangi Indonesia untuk beberapa agenda bussiness trip. Salah satu agendanya, tentu saja memantau perkembangan proyek kami di sini.

Daaan.. yang membuat terharu – biru, beliau memberikan omiyage (oleh-oleh/cinderamata)khusus untuk kami, yaitu sebungkus nori (rumput laut).

Nori

Nori

Tadinya mau diolah jadi onigiri atau apa ajalah. Tapi saat dicicipin selembar, ternyata dimakan biasa pun enak. Akhirnya, belum sempat dikreasikan, si nori sudah ludes dicemil. :p
Sebenarnya, nori bukan makanan langka. Di alfamart / indomaret malah sudah dijual Tao Kai Noi buatan Thailand. Tapi.. lebih nikmat memang kalau gratisan. Hehe…

Sebagai balasannya, kami memberikan oleh-oleh juga buat Andy-san. Si abang urun Bencok, kentang goreng khas betawi, mb bos bawain kripik bayam, dan saya nyomot chocodhot Anti Galau yang tadinya mau dibuat oleh-oleh pas pulang ke rumah. Hihihi.. gapapa lah..

coklat asli garut

coklat asli garut

Satu lagi..
Sebagai kenang-kenangan juga, saya sempat print foto saat training dulu.
Unyu kan? 😀
IBUTSU Training

Sayonara Andy-san..

Kamar Kost
Kedasih III/55

Kuliah Tanpa Gelar

Bismillah..
Hari ini saya tersadar kembali, bahwa luasnya ilmu yang terhampar di dunia ini nyatanya tak mampu terangkum dalam modul-modul kuliah formal semata. Lantas, bagaimana jika dibandingkan dengan ilmu Allah yang berlipat-lipat luasnya?

Kisah ini berawal dari mutasi pekerjaan saya hampir 1,5 bulan yang lalu. Dari bagian produksi berpindah ke quality. Dari output oriented menjadi quality oriented. Mulanya saya berberat hati, karena issue kepindahan ini berbarengan dengan dipindahkannya beberapa staff yang bermasalah. Namun, ketika mendengar arahan dari atasan saya, tentramlah perasaan ini.

“Kamu dipindahkan bukan karena kamu tidak dibutuhkan lagi, justru ini adalah kesempatan untuk menambah value kamu. Tidak butuh orang pintar, cause I know you’re not smart enough (#jlebb). Tapi, orang yang mau belajarlah yang sedang dicari.”

Dan yang patut disyukuri adalah peluang belajar yang terbuka lebar di depan mata. Betapa tidak? Orang cupu macam saya yang baru kemarin sore menginjakkan kaki di ranah ini mendapat kesempatan bergabung dalam tim super dan mengikuti training sepekan bersama perwakilan dari negara upin-ipin serta trainer yang didatangkan langsung dari negara oshin. Yang biasanya muter-muter di satu ruangan bising, kini harus keluar-masuk beberapa gedung. Dari ruang genset, AC central, produksi, hingga fabrikasi mesin saya datangi. Tanya sana-sini, SKSD dengan tukang AC, demi mengikat ilmu yang terserak.

Hasilnya, sejenak membawa saya kepada sebuah perenungan. Ternyata gelar yang didapat tak sebanding dengan ilmu yang menempel. Tak sebanding dengan mang Yanto yang tahu betul seluk beluk AC. Sampai-sampai beliau angsurkan satu buku untuk saya pelajari. Tak setara dengan Madun yang expert di bidang kebersihan. Mungkin agak aneh karena pembandingnya tidak seimbang. Tapi.. lihatlah.. setiap orang ternyata memiliki ilmu yang kita belum tahu sebelumnya.

Sedikit menjadi peringatan bagi kita, bahwa tidak sepantasnya kita meremehkan pekerja yang secara gelar formal berada di bawah kita. Mereka pun berilmu, dengan kepakaran masing-masing. Karena sejatinya manusia adalah makhluk yang berakal dan berilmu.

Dan.. bukankah ketika bekerja pun nyatanya kita juga sedang kuliah walaupun nantinya tanpa gelar tersemat di belakang nama kita.

03/07/2012
kamar kost kedasih III/55

Antara Saweran dan Kondangan

Saya mengenal arti lain dari dua kata ini sejak berada di lingkungan kerja. Sebelumnya, “saweran” yang saya pahami berarti memberi uang kepada orang yang telah menghibur kita. As an example, seseorang nyawer ke penyayi dangdut keliling sebagai imbalan karena dia merasa terhibur (dan stigma saya selalu negatif jika mendengar kata ini -__-“).Nah, ternyata ada makna saweran yang positif. Saweran di sini, di tempat saya bekerja, berarti memberikan bantuan untuk orang yang sedang ditimpa musibah. Misalnya, ada rekan kerja yang sedang membutuhkan biaya untuk berobat atau ada salah satu anggota keluarganya yang meninggal dunia, maka salah seorang rekan kerja yang lain akan mengedarkan amplop untuk menggalang dana bantuan. It;s mean saweran.

Selain saweran, ada juga kata kondangan yang mengalami perluasan makna. Awalnya kata kondangan yang saya pahami berarti pergi menghadiri undang (umumnya pernikahan). Tapi ternyata ketika kita tidak bisa hadir dan memberikan kado (barang atau uang) ke orang yang mengundang (pra atau pasca hari H), itu juga diartikan kondangan. Hmmm.. tadinya saya bingung pas ditanya, “Mbak, udah kondangan ke si A?” Pikirku, kenapa baru ditanya sekarang, padahal acaranya sudah 2 hari yang lalu. Ternyata kondangan yang dimaksud adalah memberikan kadonya itu. Hoho…

Apakah Anda mengartikan hal yang sama untuk kedua kata pada judul di atas?

-kamar kost kedasih III/55
ketika bulan-bulan dipenuhi derasnya arus saweran dan kondangan 😀

Another Achievement: Menuju KarTap

Akhir Januari kemarin adalah akhir masa kontrak di perusahaan pertama tempat saya bekerja. Sesuai dengan sistem yang ada, persyaratan mengakhiri masa kontrak adalah dengan membuat improvement project yang nantinya akan dipresentasikan di hadapan tiga komite (level manager dept). Walaupun telah dipersiapkan selama tiga bulan terakhir, tetap saja ada sedikit kegalauan menjelang detik-detik presentasi. Maklum, ini kali pertama saya presentasi dalam bahasa inggris (tentu berbeda dengan lomba cerdas cermat dalam bahasa inggris semasa SMP). Well, walaupun sempat disarankan untuk mengambil les convensation oleh atasan yang membimbing saya, tapi saya mengindahkannya dengan dalih tidak terlalu penting (alasan sayang budget juga sih :D). Dan singkat cerita, biidznillah, presentasi dapat dilalui dengan lancar.

Sehari menjelang masa kontrak habis (presentasi saya dilaksanakan H-2 habisnya masa kontrak), terjadi aksi buruh besar-besaran di sini (red: kawasan industri tempat saya bekerja). Harusnya hari itu saya menerima hasil keputusan (SK jika saya diangkat menjadi karyawan tetap, lembar kontrak jika saya dikontrak ulang, atau lembar pengalaman kerja yang artinya saya sudah harus hengkang dari tempat ini), tapi keadaan nampaknya kurang bersahabat. Hari terakhir kontrak pun harus dirayakan dengan aksi walk out para buruh. Ketika mereka ramai-ramai menuntut kenaikan UMK, maka dalam hati saya menuntut keputusan management atas nasib saya di sini. What a selfish, gals! X(

Sampai beberapa hari, akhirnya keadaan mereda (tidak ada lagi aksi buruh susulan).Pun masa kerja saya sudah lewat, namun atasan saya tetap meminta saya untuk masuk kerja. Yah, walaupun secara eksplisit berarti saya masih menjadi karyawan di sini, tapi tetap saja keputusan itu belum sampai di telinga saya. Sampai akhirnya, lewat 4 hari dari masa kontrak, saya memberanikan diri untuk bertanya langsung pada atasan 2 tingkat di atas saya. Beliau mengucapkan selamat sembari menyerahkan SK pengangkatan saya sebagai karyawan tetap.
Well, don’t know it should be happy ending or not. Karena rasanya masih hambar sampai saat orang tua memberikan suntikan penyejuk jiwa bahwa beliau merelakan saya untuk berada di sini lebih lama lagi.
Thank’s mom and sorry if I can be your side yet:'(.

Todays Learn

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku),maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS Ibrahim:7)

Mbolang hari ini mengingatkan diri untuk bersyukur, kapanpun, dimanapun, dan dalam kondisi apapun.
Yakin bahwa “bus jemputan” mungkin kendaraan sementara yang dipilihNya sesuai dengan kapasitas kita saat ini, bukan busway, atau yang lain 🙂

Seperti Cinta

Cinta itu sahabat
Tumbuh kala sekian lama bersama
Cinta itu angin sepoi
Terasa sejuk dan damai kala kita ikhlas menerima kedatangannya
dan ikhlas melepas kepergiannya
Tapi cinta bukan angin gurun
Ketika baru sekejap menghampiri
kita memaksanya untuk tinggal
Dan cinta akan membuat kita selalu bahagia
Karena sejatinya cinta selalu damai dan mendamaikan
saling menjaga dan dijaga
Tak pernah meminta untuk saling memiliki
Karena cinta tak berhak atas kepemilikan

St. Gubeng
2606’11