Marriage Life (2) : Perkenalan Tiada Akhir

Dalam salah satu topik diskusi sebelum proposal itu datang kepada saya, beliau, mantan bakal calon suami saya bertanya tentang metode terbaik dalam membangun kesiapan untuk menerima. Beliau berpendapat, proses saling mengenal adalah bagian dari metode untuk membangun kesiapan untuk menerima.

Awalnya bingung, apa maksudnya? Kemana arah pembicaraannya?

Dari sudut pandang saya, kunci awal dari sebuah hubungan adalah membangun landasan komitmen.  Ketika keduanya sama – sama berkomitmen dengan landasan yang kokoh, maka proses saling mengenal dan menerima itu akan menjadi mudah. Jadi, di awal ndak perlu terlalu detil mengenal tentang makanan kesukaan, warna favorit, dan lain sebagainya. Karena kalau dari awal meributkan hal – hal yang demikian, coba pinjam saja buku kenangan masa SD atau SMP teman kita yang suka mengoleksi biodata sebelum acara kelulusan. Kan suka ada tuh makes, mikes, hobby, dll. Hehe.. ketauan angkatan berapa ya. Kalau anak jaman sekarang mungkin udah beda budayanya.

Oleh sebab itulah kita mengenal konsep ta’aruf, yang berjangka waktu, tidak berlarut – larut. Karena sejatinya pernikahan adalah proses mengenal tiada akhir. Yang sering berdalih bahwa pacaran adalah sarana mengenal pasangan pun tidak menjamin 100% mengenal dan menerima pasangannya setelah pernikahan.

Dan saat itu kami sepakat bahwa batas perlunya adalah saling mengenal pandangan berkeluarga atau sering disebut visi dalam berkeluarga.

Duh, kalian ini mau nikah ribet juga ya!

Haha.. ya memang. Saya pribadi memang memilih ribet di awal daripada menyesal kemudian. Karena menikah bukan sekedar ‘aku cinta kamu’.

Setelah kami saling memaparkan visi dalam berkeluarga (lebih tepatnya beliau yang secara detail membuat modelnya :D), bersilaturrahim dengan kedua keluarga, serta menggali informasi dari kedua adiknya, saya pun mantap menerimanya. Eits, mantap di sini bukan berarti 100% saya mengenal dan menerima baik buruk pribadinya, tapi secara prinsip dasar saya tidak ada masalah dengannya.

Dan tibalah kehidupan setelah akad, saat kami akhirnya hidup bersama. Ngga ada lagi ngulur waktu buat balas chat karena lama mikir harus bales apa, atau sengaja ngga ngangkat telponnya karena ngga tau harus ngomong apa. Semua hal terpampang nyata, ngga ada yang bisa ditutup – tutupi. Baik buruknya, kebiasaannya, suka ngga suka ini suamimu!

Mengutip cerita dari Azhar dalam ceritanya di sini

Maka saya setuju sekali dengan apa yang dikatakan Salim A. Fillah, pernikahan adalah proses saling mengenal tanpa akhir. Dalam proses saling mengenal itu, tentu ada hal yang menyenangkan ada yang tidak. Ada yang membanggakan ada yang tidak. Sehingga proses saling mengenal yang tak didahului oleh kesiapan untuk menerima hanya akan melahirkan perasaan kecewa, yang jika ditumpuk lama-lama akan sangat berbahaya.

begitu juga dengan kehidupan pernikahan kami. Sebulan, dua bulan, tiga bulan, aah.. sepertinya tidak ada batasan waktu yang tepat untuk mengakhiri masa perkenalan kami. Selalu saja ada hal yang baru saya ketahui setiap harinya. Kadang cukup menerimanya tanpa kata, bergumam, menggerutu (yang ini diminimalisir sih kalo bisa >.<), kadang juga sambil senyum sumringah.

Pesan kepada diri saya sendiri, jangan cepat men-judge sifat seseorang dari satu kali kejadian/ sesaat. Karena segalanya sangat relatif. Kenapa begitu? Salah satu contohnya, beliau, suami saya dulu mendeskripsikan dirinya sebagai orang yang ngga romantis. Perempuan mana yang ngga pengen di-romantis-in? Awalnya meng-iyakan juga sih, ini orang ngga ada romantis – romantisnya. Tapi seiring berjalannya waktu, dalam diri saya menyangkal deskripsi di atas. Ah.. ngga juga kok, laki gue romantis abis! Tentu saja dengan caranya, yang saya anggap itu romantis.

Dan kembali lagi ke uraian di awal, hal yang penting dari proses mengenal adalah kesiapan untuk menerima. Menerima segala kelebihan dan kekurangan pasangan. Bukan berarti pasrah, tapi saling membangun. Ketika ada kekurangan pasangan yang tidak kamu sukai, maka jangan hanya menuntut pasangan untuk berubah, tapi akan lebih indah kala kita bisa membersamai untuk berubah.

Yup.. roda hidup terus berputar, semuanya bisa berubah. Mungkin kalian yang pada baca tulisan ini ada yang beranggapan, yaelah.. kan masih baru, wajar aja masih indah – indahnya. Justru itu, selagi masih banyak moment indahnya, saya sengaja menuliskannya agar kelak saat perkenalan kami nanti ada hal – hal yang “ngga enak” saya bisa baca – baca lagi tulisan ini, bahwa yang saya alami saat ini jauh lebih berharga ketimbang secuil episode “ngga enak” yang nanti ditemui.

Pernah baca juga di sebuah tulisan (saya lupa sumber lengkapnya), bahwa salah satu kunci dalam menjaga hubungan adalah tuliskan setiap kebaikan dan keburukan yang dilakukan oleh pasangan. Ketika ada kebaikan, maka tambahkan di kolom kebaikan, dan hapus satu poin di kolom keburukan. Begitu terus, hingga nanti yang tergores adalah deretan kebaikannya, abaikan keburukannya.

Well, selamat melanjutkan perkenalan dengan pasangan masing – masing 🙂

Mas.. mas.. kenalan dong!

Iklan

Marriage Life (1) : Menuju Halal

Hi..!

Sudah lama ngga nulis berasa kaku jari-jari. Hihi..

Well, kali ini pengen sekedar nyimpen cerita aja buat dibaca besok – besok 🙂

Kalau baca postingan saya tiga atau empat tahun yang lalu berasa galau banget waktu itu pengennya buruan nikah aja Ya Allah. Hehe.. Tapi pas udah lewat tahun – tahun berikutnya malah sepiii karena sibuk jadi kuli. Dan, sekarang tau – tau udah nikah aja.

Kepikiran mau nulis ini gegara udah mau jalan setengah tahun nikah, masih ada aja yang suka ngejapri, entah itu iseng atau emang beneran ngga tau, nanyain,

Eh, Nan.. lu udah nikah belum sih?

Ya, walaupun harus diakui rasanya disodorin pertanyaan di atas lebih adem jawabnya ketimbang pertanyaan tahun sebelumnya, seperti

Nan, kapan lo nikah?

atau ada yang lebih ekstrim lagi pas badan lagi ngembang

Mbak, lagi isi anak kedua ya?

*speechless

Syahdan, di penghujung 2015 ada pelajaran dari Allah yang ‘menampar’ saya untuk kembali berbenah, merenungkan kehidupan saya ke depan. Saat itu, saya sedang ‘terbuai’ banget sama kerjaan. Target tercapai, kesempatan meningkatkan skill terbuka lebar, tim solid, passion lagi di atas, ngga peduli lembur dibayar atau ngga, yang penting kerjaa aja.

Tapi, setelah ‘tamparan’ Allah itu, saya jadi berpikir, kayanya ada yang salah ini. Dulu saya kerja buat apa, sekarang ngejar apa ya? Tambah nyesek lagi pas nemuin dream list yang beberapa point udah ngga tercapai lagi. Tiap pulang kerja akhirnya sering merenung, kadang mampir ke masjid kantor, diem sendirian berasa pengen ngobrol lama sama Allah. Dan pas banget dapat kutipan di bawah ini.

Dalam kitab Nahjul Balaghah, Ali bin Abi Thalib mengajarkan kepada kita:

Barangsiapa membereskan hubungan antara dirinya dengan Allah, niscaya Allah akan membereskan hubungan antara dia dan manusia semuanya. Barangsiapa membereskan urusan akhiratnya, niscaya Allah akan membereskan baginya urusan dunianya. Barangsiapa selalu menjadi penasihat yang baik bagi dirinya, niscaya Allah akan menjaganya dari segala bencana.

Akhirnya solusinya cuma satu, PDKT lagi sama Allah. Lanjut sering – sering nelpon yang di bawah kakinya terbentang surga, Ibu..

Ngobrol ngalor ngidul sama ibu, ternyata ada beberapa pengharapan yang belum tuntas kujalankan. Selain kondisi kerjaan yang sepertinya dari awal ibu ndak rela berjauhan lagi sama anak wedoknya yang bandel ini, juga masalah nikah! Hey, sudah lama ya sejak kapan tahun memang kami tak pernah membahasnya serius. Beberapa tawaran perjodohan yang sesekali mampir di topik obrolan cuma kutanggapi dengan tawa kering (please bayangin gimana itu tawa kering).

Akhirnya kuputuskan untuk menyudahi rantauan tak berujung bahagia ini (*eh) kembali ke pangkuan ibu dengan terselip sedikit harapan siapa tau jodoh juga akan mendekat.

Di sela – sela rencana mengubah episode hidup di atas, ndilalah ada seorang teman lama yang menceritakan rencana kepindahannya. Singkat cerita, saya sedikit tertarik dengan motivasi pindahnya, menyelamatkan iman & keluarga. Setidaknya itu yang saya tangkap dari obrolan maya. Beliau juga yang secara tidak langsung memberikan pencerahan dan memantapkan saya untuk mengambil keputusan pindah. Padahal dari segi kasus, jelas kepindahannya lebih menjanjikan karena sudah ada perusahaan yang fix menerima dia di sana. Sedangkan saya? Modal nekat mau deketin ortu biar dapat barokahnya, masalah kerjaan ya nanti lah.. (yang ini ga boleh ditiru >_<) Pun sebenarnya ada beberapa lamaran kerja yang sudah saya kirimkan, namun belum tembus jua.

Sampai pada akhir bulan Januari 2016, teman saya ini mengajak bertemu, mau pamitan katanya. Sempat deg – degan juga sih, secara selama hampir 9 tahun merantau ndak pernah kayanya diajak ketemuan sama teman lama, sendirian. Paling banter ya ketemuan rame – rame. Itupun bisa dihitung jari sebelah tangan. Bukan kenapa – napa, saya tipe orang yang seeering banget menghindari hal – hal seperti ini. Menjaga pergaulan saat di perantauan adalah kunci kepercayaan yang harus terus saya pegang untuk membuat orang tua saya tenang walaupun anaknya jauh di mata.

Akhirnya saya berusaha mendamaikan diri, bahwa ini cuma ketemuan biasa, ndak lebih. Haha.. dasar jomblo mikirnya suka ngelantur.

Dan mendekati hari yang disepakati, ternyata teman saya ini membatalkannya. Saya cuma senyum aja. Yawes, coret abu – abu (read : sementara) >.< Sepekan kemudian beliau menghubungi kembali untuk bertemu hari itu juga. Nah loh.. Saya yang sudah punya janji dengan dua teman kerja saya mensyaratkan untuk bertemu di tempat yang sama. Niatnya sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Bonusnya, saya jadi ndak sendirian, bisa ditemani dua bodyguard cantik. Hihi..

Sepanjang perjalanan bersama dua teman saya ini, pikiran udah ngga fokus. Mau ngapain ntar, ngobrolin apaan, bla..bla..bla.. Karena walaupun teman lama, saya tidak terlalu akrab dengan beliau. Sesampainya di tempat yang dijanjikan, saya sempat menemani kedua teman saya untuk makan dan berbelanja, sampai HP saya menerima pesan singkat, beliau sudah di lokasi. Saya memberitahukan ke kedua teman saya untuk menemuinya. Dan ternyata keduanya kompak enggan menemani saya. Nantilah kami menyusul, kata mereka serempak. Hmm.. M***lah ini.

Akhirnya dengan berat hati saya pergi menemui beliau. Dari kejauhan saya mendapati sosoknya, berkaos, bercelana jeans, dan memakai sandal, santai sekali. Dalam hati bergumam

Yakin lo Nan mau ketemu dia? Seriusan lo?

Dengan agak canggung saya menemuinya, mengajak ke salah satu tempat makan. Kami memesan minum dan duduk berhadapan. Well, ini bukan gue banget!

Mungkin raut canggung saya terbaca, sehingga beliau memulai obrolan dengan santai. Tapi ya tetap aja sudah kepalang canggung, dalam hati masih menderu, minta maaf ke Allah, sambil sesekali mata melirik keluar mencari dua sosok yang tadi bilangnya mau nyusulin. Sampai akhir obrolan pun keduanya tidak terlihat batang hidungnya. Kurang dari sejam beliau undur diri. Saya pun mengiyakan.

*************************************************************************************

Singkatnya setelah pertemuan itu, saya makin PDKT ke Allah, minta penjagaan hati, mengikhlaskan apapun yang akan terjadi ke depannya. Bukan hanya tentang keputusan keluar dari pekerjaan, tetapi juga tentang jodoh. Pasrah sepasrah pasrahnya.

Akhir bulan berikutnya beliau pamit melalui pesan singkatnya. Entah apa yang menggerakkan, tetiba saya meluncur menitipkan sebungkus barang melalui jasa pengiriman. Ini kali pertama saya melakukannya, dengan itikad sebagai tanda terima kasih telah menginspirasi. Itu saja.

Sejak saat itu obrolan maya kami menjadi mengalir. Diskusi ini itu sampai pada diskusi tentang keluarga. What does it means?

Tenang, Nan.. Belajar dari pengalaman. Jangan terlalu berharap deh!

Angan saya berputar dan suara di atas berdengung. Inget Allah, inget ibu.

**************************************************************************************

09 Maret 2016

Setelah pagi hari gerhana matahari, malam harinya mata saya yang gerhana.Pesan singkat masuk dan meminta saya membaca surelnya. The proposal!

Saat itu saya sendirian di kamar kost, udah pengen jungkir balik, mau nangis histeris malu kedengeran ibu kost, mau lari juga ribet harus ganti baju pake kerudung dan kaos kaki (oke stop it!).

Akhirnya saya hanya bisa memintanya untuk bertemu ibu dan saudara saya di rumah sebelum menjawab proposalnya.

Yang tak habis dalam pikiran saya, ternyata saat Allah berkehendak, semua akan mudah dijalani. Ibu yang biasanya ‘alot’ masalah memilah dan  memilih, jadi luluh. Mungkin karena saya sendiri ternyata belum paham betul apa yang diharapkan ibu. Dari agenda silaturrahim kedua belah pihak sampai akad pun berjalan lancar. Alhamdulillah…

Oiya, salah satu hal yang patut saya syukuri juga, penjagaan Allah sangat saya rasakan. Dulu saya berharap, nanti saat saya melalui proses menuju halal, jangan sampai dikotori oleh hal – hal yang mengurangi kesucian penjagaan Allah saat saya masih sendiri. Misalnya, jalan berdua dengan dalih mengurusi tetek bengek pernikahan, dsb. Dan ternyata harapan saya itu terkabul. Lelaki ini, bahkan lebih strict dari apa yang saya harapkan. Jangankan jalan berdua, kemana – mana kami selalu dikuntit dua bodyguard kece yang tak lain adalah calon adik ipar saya.

Dari proses khitbah menuju akad pun intensitas obrolan kami menurun drastis, hanya sebatas menanyakan perihal persiapan dan progress acara menuju akad. Sempat dibuat kesel juga, serius ngga sih ini orang. Tapi setelah dipikir – pikir, oiya ini bentuk beliau menjaga hubungan yang belum halal. Jadi banyak juga pembelajaran yang saya dapatkan saat masa – masa menunggu. Kadang kalau lagi nyambung tentang sikap beliau, saya mahfum. Tapi seringnya saya sadar pas udah kesel kemrungsung sendiri. Hehe..

Jadi sodara – sodara, demikian kisahnya. Masih suka ngga percaya sama jalan yang digariskan untuk menuju halal ini. Saat undangan disebar pun, teman – teman lama banyak yang melontarkan pertanyaan yang sama. Lho kok bisa sama dia? Saya cuma bisa jawab pake emot aja ya 🙂

Pose setelah prosesi akad, masih kaku dan malu – malu ><

Mengeja Cinta

Ada banyak cinta dalam hidup..
Cinta orangtua yang membuat kita hadir
Cinta saudara yang menemani kita tumbuh
Cinta para guru melalui ilmu
Cinta teman kita yang turut mendewasakan kita
Dan, tentu saja sumber dari segala cinta
Cinta Rabb kita..
Walaupun baru sepersennya ditebar ke bumi ini
Telah menjelma menjadi rona indah dunia

Tapi betapa seringnya kita lupa
Ketika cinta makhluk telah melenakan hidup
KepadaNya kita acuh
Berpaling dalam riuh kebahagian
Bersimpuh kala sendu datang

Rabb.. maafkan kami yang masih terbata mengeja cintaMu
Mencemburu pada yang tak layak dicemburu
Memuja pada yang tak pantas dipuja
Faghfirli Rabb.. Faghfirli..

Bertemu “Malaikat Stasiun” 2

Malaikat stasiun yang kedua adalah seorang bapak tua yang saya temui di Stasiun Senen.

Saya tiba di stasiun saat udara terik menjelang sore bercampur dengan padatnya rombongan penumpang liburan akhir pekan.

Hawa panas, badan lemas memaksa saya untuk segera mencari bangku kosong. Hap! Akhirnya saya mendapatkan bangku di ujung peron di antara dua orang lelaki. Di samping kanan saya, seorang bapak tua, sekitar 50 tahunan, duduk sambil mendekap tas jinjing. Di samping kiri saya, seorang pemuda duduk terpekur sambil mengawasi kardus bawaannya. Lima menit berselang, sang bapak mengajak saya mengobrol. Berikut cuplikannya (beberapa bagian dihilangkan 😉
(B: Bapak; S: Saya)

B: “Mau kemana dik?”
S: “Mau ke Surabaya pak, tapi mampir dulu ke Madiun.”
B: “Ooh.. Sudah lama merantau di sini?”
S: “Hampir dua tahun, Pak.”
B: “Sudah menikah?”
S: (senyum sambil geleng kepala)
B: “Lhoo.. Apalagi yang ditunggu? Menikah itu ibadah dik. Dalam hadits ……. (saya tidak hafal arabnya) yang artinya carilah rizqi dengan menikah.”
S: “Hmm.. Iya pak, saya sedang mempersiapkannya. Kan katanya kalau ingin dapat suami yang baik, kita harus baik dulu.”
B: “Iya, saya sepakat. Tapi dik, sampai kapan mau mempersiapkannya? Lagipula, menikah dengan tujuan yang benar bisa mengantarkan kita menjadi semakin baik lho. Contohnya, sholatnya lajang (sendiri) itu cuman dihitung satu pahala. Coba kalau sudah menikah, sholat bareng suami (jama’ah) bisa 27 pahalanya. Apalagi kalau setiap hari berjama’ah. Ini baru sholat lho. Belum yang lainnya.”
S: (manggut-manggut doang)
B: “Ya sudah sana dipikirin lagi dan segera menikah! Bapak mau pergi dulu.” (sambil menjinjing tasnya dan ngeloyor pergi)
S: “Eh.. Eh.. Iya pak.. Terimakasih nasehatnya.”

Selepas mengikuti kelebatan sang bapak yang tenggelam di kerumunan penumpang, saya masih merenung. Mimpi apa semalam, tiba-tiba mendapat tausiyah dadakan dari seseorang yang baru bertemu belasan menit yang lalu. Dari penampilannya tak disangka akan keluar petuah yang menambah sudut pandang berpikir saya.

Gals, “malaikat” yang satu ini mengingatkan saya untuk lebih open mind. Don’t judge the books by its cover. Peringatan dan nasehat bisa datang dari siapapun, dimanapun, dalam banyak bentuk.
Jangan lihat siapa yang berbicara, tapi dengarkan apa yang dia katakan. Sekian.

28 Maret-10 April 2013
*Ditulis paralel dalam kereta Majapahit menuju Madiun, dilanjutkan di tengah kemacetan sepulang kerja.

Bertemu “Malaikat Stasiun” 1

Pernahkah Anda bertemu malaikat? Saya pernah! Dua kali malah! Tentu saja malaikat yang saya temui bukan sebenar-benarnya malaikat. Ya, hanya sosok manusia baik berhati seperti malaikat. Dua-duanya saya temui di stasiun. Malaikat Dermawan Saya lupa tepatnya, sekitar dua tahun yang lalu saya bertemu beliau di Stasiun Gambir. Saat itu sehari menjelang long weekend, saya nekat memutuskan untuk pulang tanpa sehelai tiket. Sepulang kerja saya segera meluncur menuju Stasiun Gambir. Namun, betapa terkejutnya ketika antrian di setiap loket sudah mengular. Ketika saya dekati salah seorang calon penumpang, ternyata sebenarnya tiket sudah habis, hanya saja mereka mengharapkan dibukanya gerbong tambahan. Itupun belum pasti. Kaki saya lemas. Sayup-sayup adzan maghrib berkumandang. Dengan sedikit kecewa saya seret kaki ini menuju musholla stasiun. Saya jamak maghrib dan isya’. Dipenghujung do’a saya pasrahkan pada Allah untuk menentukan perjalanan saya selanjutnya. Seusainya saya kembali berjibaku dengan antrian loket. Ikut harap-harap cemas menunggu tambahan gerbong. Saya berdiri tepat di belakang seorang bapak paruh baya dengan tas jinjing dan kopernya. Tiba-tiba sang bapak meminta saya untuk menjaga kopernya karena beliau ingin mencari alternatif lain untuk mendapatkan tiket. Yup, nyari calo tiket sodara! Dalam benak saya, percaya betul bapak ini pake nitip barang ke orang yang tak dikenalnya. Tapi, ya sudahlah.. Karena kopernya sudah diamanahkan ke saya, akhirnya saya pegang handlenya erat-erat. Takut kalau ada yang berniat buruk dengan koper itu. Hampir setengah jam saya menjaga koper sambil antri. Saya mulai berpikir macam-macam. Jangan-jangan saya dijebak. Jangan-jangan kopernya berisi barang haram. Dan banyak lagi jangan-jangan lainnya. Lamunan saya buyar kala bapak pemilik koper menghampiri saya dan mengajak saya keluar dari antrian. Sambil berbisik beliau bercerita kalau dirinya sudah mendapatkan tiket dari calo. Dan yang bikin dag dig dug adalah sang bapak mengajak saya untuk ikut. Ternyata tiket yang dibelinya untuk dua orang, dan si calo mengharuskan sang bapak untuk membeli keduanya. Deretan angka mulai berjalan di kepala saya. Biasanya harga tiket dari calo bisa dua sampai tiga kali dari harga normal. Waah.. Mahal sekali, pikirku. Apalagi yang ditawarkan adalah tiket eksekutif KA Sembrani. Nampaknya sang bapak menangkap apa yang sedang saya pikirkan. Kemudian beliau meyakinkan saya bahwa saya cukup membayar harga normal. Dan sisanya beliau yang tanggung. Karena beliau harus pulang malam itu juga. Huaaa… Baik sekali. Tak menunggu lama, saya langsung mengiyakan tawaran beliau. Akhirnya kami berdua berlarian menuju gerbong kereta yang lima menit lagi akan berangkat. Sambil napas yang masih ngos-ngosan, kami sampai di dalam gerbong. Belum hangat pantat di kursi, kereta sudah melaju. Allahu Akbar!! Saya bisa pulang! Ketika menyelesaikan pembayaran ke sang bapak, saya berkali-kali berterima kasih kepada beliau. Sepanjang perjalanan kami saling bertukar cerita tentang betapa paniknya hari ini. Dan obrolan kami terhenti ketika petugas KAI menawarkan menu makan malam. Baru sadar kalau perut kami berdua belum diisi. Akhirnya kami pesan makan beserta minumnya. Dan lagi-lagi saya mendapatkan percikan hari malaikat sang bapak. Beliau mentraktir saya. Duuh.. Malu sebenarnya. Tapi pamali juga kalo nolak gratisan. Hehehe.. 😛 Usai makan, kami kembali terlibat obrolan ringan. Daaaaan… Jeng..jeng..jeng.. Ternyata bapak malaikat ini turun di stasiun cirebon. Means.. Dari Cirebon sampai Surabaya, dua kursi empuk ini akan menjadi barang jajahan saya. \^0^/ Akhirnya saya hanya terpekur sambil lamat-lamat merapal hamdalah serta ayat yang berulang-ulang tertera di Surat Ar Rahman Fabiayyi aalaa irabbikumaa tukadzibaan.. *Menggali Memori 28 Maret 2013 KA Majapahit Pasar Senen-Madiun

Menjemput Jodoh.. Katanya..

Sabtu, 16 Februari 2013 seminar pranikah bertajuk “Indahnya Menikah Berkah” sukses digelar di Auditorium Universitas Al Azhar Kebayoran, Jakarta Selatan. Lebih dari 900 peserta memadati ruangan dan tampak antusias mengikuti seminar.

Diawali dengan lantunan nasyid dari kang Abay @motivasinger tentang bidadari surga, dilanjutkan dengan perkenalan @Teladan Rasul sebagai penyelenggara seminar.

Ok, sampai di sini saya berasa di GSG kampus IT Telkom. Berasa masih mahasiswa yang sedang mengikuti pembekalan dari senior. Selidik punya selidik, kang Arief, founder @Teladan Rasul, ternyata alumni ITB yang sukses berdikari. Hoho.. Pantas saja, apa karakter dan pembawaan anak teknik di Bandung itu hampir sama ya? *rasis, abaikan 😀

Dalam kesempatan kali ini, kang Arief menyisipkan kisah Imam Malik. Singkat cerita, Imam Malik selalu menyiapkan kondisi terbaiknya sebelum berangkat ke majelis Rasulullah. Beliau mandi, memakai wewangian, dan sang ibu selalu menyiapkannya pakaian terbaik. Begitu semangatnya menuntut ilmu, wajahnya pernah membiru, keringat dan air mata menetes karena menahan rasa sakit diakibat sengatan serangga yang ia abaikan demi mendengarkan mutiara hikmah rasulullah. Betapa harunya!

Kemudian acara menjadi lebih menarik dengan hadirnya Ust. Hepi Andi Bastoni, ustadz sekaligus penulis hampir 40 buku. Salah satunya adalah buku saku “Indahnya Menikah Full Barakah” yang menjadi bonus pada seminar kali ini mendampingi buku karya Kang Arief “Keajaiban Cinta Rasul”.

Sebuah ungkapan menarik yang sempat saya kutip dari beliau adalah
“Shalat adalah ibadah menit-an, puasa adalah ibadah jam-an, dan haji adalah ibadah hari-an. Sedangkan menikah adalah ibadah seumur hidup. Jika sebelum shalat kita butuh mandi, wudhu, dan memakai pakaian bersih, ketika puasa dan haji pun persiapan pasti dilakukan. Maka demikian pula dengan menikah, dibutuhkan persiapan sebelum menjalaninya.”

(To be continue…) 😉

Am I Capable?

Akhir pekan sodara!
Sejenak merenungi kinerja pekan ini.

Ibutsu project tinggal sebulan lagi, akan berakhir tepat dengan selesainya Tanaka-san bertugas di negeri ini, juga beberapa hari menjelang resignnya project leader kami. Senang karena akhirnya project ini akan khusnul khotimah. Sedih pula karena harus kehilangan kedua orang di atas. Seorang advisor yang mumpuni, tegas, dan selalu memberi semangat untuk terus belajar dan berimprovisasi. Satu lagi, seorang pemimpin, yang juga sudah seperti seorang kakak sekaligus teman bagi saya. Banyak hal yang telah dibagi. Sebagai pemimpin, beliau sangat mengapresiasi setiap ide dari anggotanya, lalu bersama-sama merealisasikannya. Setiap opini negatif ditanggapi dengan bijak. Sebagai kakak, beliau memberikan inspirasi tentang sebuah keluarga. Berjuang membangun keseimbangan antara karier dan mendidik anak. Sebagai teman, obrolan apapun menjadi seru lewat ekspresinya. Tak heran bila banyak orang di perusahaan ini yang menyanjung kecantikan pribadinya, mengakui kecerdasannya.

Hilangnya dua orang ini membuat saya sedikit gusar. Kalau memang desas-desus project batch 2 itu benar, dan kemungkinan saya masih di dalamnya, bagaimana saya melewatinya? Sistem baru, dengan orang baru, dan kemampuan yang belum seberapa ini. Pening awak..
Maka, dibuatlah tulisan ini dengan judul seperti di atas. Itu saja.

image

*photo session untuk mejeng di slide presentasi Best Practice di Kyoto awal bulan nanti. Sayangnya, hanya leader kami yang ikut. Someday, it must be me! (ngarep.com) 😛

Bus Jababeka-Blok M
16 Feb’13

Ketika Bunda Bekerja

(sambil mengumpulkan mainan yang tercecer) “Kak, bunda kemana? Kok belum pulang juga.”

(menjawab tanpa memalingkan wajah dari PSP) “Kan bunda lagi meeting. Paling ntar pulangnya jam 12 malam.”

“Bundaku sibuk, tante. Kadang jam 02.00 baru pulang. Jadi aku udah biasa kok tidur sendiri.”

“Tante sini, aku punya tab lho, HP juga. Tante, installin game bikin kue dong.”

“Tante, tidur sama aku ya. Rambutku ga usah dielus tante. Aku bisa tidur tanpa dielus kok.”
image
Nak, mungkin sekarang kau belum menyadarinya. Kecukupan materi tak kan pernah menggantikan kebutuhanmu akan waktu bersama bunda. Bahkan sebenarnya perhatian bundamulah yang kau rindukan.

Bunda, cepatlah pulang.
Ananda membutuhkanmu.

*Terimakasih atas hikmah yang diberikan melalui pertemuan singkat denganmu, Re..

Grand Wisata
9 Feb’13

Nekat, Tekad, dan Tirakat

Hola!
Apa kabar?
2013 sudah sebulan berjalan, sodara. Sudah melakukan apa untuk merealisasikan resolusi-resolusi yang disusun di awal tahunnya? Semoga masih semangat menepatinya ya.

Resolusi tahun ini saya beri tema tahun nekat, tekad, dan tirakat.

Yang pertama, berbekal nekat dan tekad, saya mendaftar kuliah ekstensi di salah satu PTS di Jakarta. Alhamdulillah kemarin saya sudah registrasi. Insyaallah awal Maret perkuliahan akan dimulai. Karena nekat daftar tanpa menunggu tabungan terkumpul, tentu saja konsekuensi yang harus diambil adalah saya harus tirakat. No more having fun!
Jadi sodara, tolong saya diingatkan ya kalo jalan-jajannya harus direm dulu, pulang ke rumah juga harus direncanakan timing & budgeting nya. Yosh.. insyaallah bisa!